Sebanyak 300 unit rumah tembok sederhana dibangun untuk ‘’warga baru’’ eks pengungsi Timor Timur di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka mendapat bantuan sebagai warga terluar.

Belu, tambahasil.com – Seorang perempuan muda bernama Adelina Rinalda, usia 30-an tahun, menyampaikan testimoninya melalui rekaman video yang diunggah di Youtube. ‘’Kami dari Balibo, Timor Leste.  Kami mengungsi ke Desa Silawan ini. Dulu kami tinggalnya di rumah alang-alang. Sekarang kami bersyukur bisa dapat  rumah tembok yang bagus,’’ ujarnya.

Desa Silawan terletak  di Kecamatan Tosifeto, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adelima memang telah menempati rumah baru, berukuran 36 m2, kopel, dengan cat tembok krem terang berkombinasi dengan warna merah cabe di bagian tiangnya.

BACA  Umrah Mengedepankan Perlindungan dan Keselamatan Jemaah

Atapnya seng gelombang warna biru laut yang disangga rangka aluminium. Ada air bersih yang mengalir dari sumur artesis. Pada satu adegan, Adelina menyiram tanaman hias dan kebun mininya di depan rumah dengan air kran.

Video itu diposting kanal InfoPagi. Gambarnya hampir seluruhnya footage video Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Setelah sekitar 50 hari diposting, video ini dapat menarik hampir 500 ribu penonton, dengan 5.400 like, dan hampir 1.000 komen, yang umumnya bernada apresiasi, per 12 November.

Video berdurasi 4 menit 31 detik itu menyampaikan pesan bahwa cerita nestapa kaum pengungsi asal Timor Timur (sekarang Timur Leste) secara berangsur-angsur memudar. Kisah nestapa itu menyeruak selama dua dekade lewat penampakan pondok-pondok beratap ilalang atau daun lontar, berdinding bebak (pelepah daun gewang) dan berlantai tanah. Tanpa sarana sanitasi dan pasokan air bersih.

BACA  Waspada Inflasi Global Terus Menggeliat

Dalam perjalanannya, gubuk-gubuk dekil itu menyusut seiring dengan kemajuan sosial ‘’warga baru’’, sebutan bagi eks pengungsi Timor Timur. Toh, sebagian mereka masih terjebak di pondok daun ilalang di Desa Silawan, yang persis berhadapan dengan wilayah Timor Leste.

Cukup kontras dengan kondisi jembatan kokoh dan Kompleks Layanan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Mota’ain yang megah, di ujung Desa Silawan. Perjalanan dari Mota’ain ke Atambua (ibu kota Belu) diwarnai oleh panorama pondok-pondok rombeng berdinding daun bebak itu.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.