Tidak ada jaminan pandemi Covid-19 bisa segera ditekan ke titik nol. Pandemi akan jadi endemi. Pemerintah telah menyiapkan strategi menghadapi situasi baru itu.

 

Jakarta, tambahasil.com  – Naik-turunnya kurva pandemi sudah terjadi. Kasus infeksi baru sudah melandai. Toh, Presiden Joko Widodo perlu mewanti-wanti bahwa virus Covid-19 tidak mungkin hilang sepenuhnya. ‘’Kita harus menyampaikan bersama-sama pada masyarakat, kepada rakyat, bahwa Covid-19 ini tidak mungkin hilang secara total. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan,” kata Presiden Jokowi ketika mengantar rapat kabinet evaluasi PPKM, Senin, 6 September, di Jakarta.

Pesan tersebut perlu disampaikan, kata Presiden Jokowi, supaya tidak terjadi euforia yang berlebih ketika kurva pandemi melandai. Masyarakat harus bisa menyadari bahwa Covid-19 selalu mengintai. ‘’Varian Delta selalu mengintip kita. Begitu lengah, bisa naik lagi,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, dengan mengutip pesan Presiden Jokowi, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, virus Covid-19 tak akan serta-merta hilang dalam waktu yang pendek. “Kita perlu menyiapkan diri untuk hidup bersama Covid-19, karena pandemi ini akan berubah jadi endemi,” ujarnya, dalam konferensi pers virtual, tak seberapa lama setelah rapat kabinet usai.

BACA  Jawa-Bali Periode 14-20 September 2021 Dengan Wilayah PPKM Level 4, 3, dan 2

Wacana pandemi berganti jadi endemi itu tidak hanya bergema di Indonesia. Narasi serupa muncul di hampir semua negara. Dalam dunia kesehatan, pandemi adalah kondisi ketika penyakit menular sudah menyebar luas, melintasi batas-batas negara, dan mengancam warga planet bumi. Pada saat penyakit menular hanya berjangkit di satu wilayah ia disebut endemi. Saat ia bergerak menjangkiti sejumlah wilayah ia berkembang menjadi epidemi, dan ujungnya ialah pandemi.

Dalam epidemi dan pandemi selalu ada sumber penularan yang berasal dari luar. Agen penularnya bisa berupa hewan atau material lain, tempat kuman penyakit bisa menumpang hidup sementara waktu, semisal pada nyamuk malaria atau nyamuk demam berdarah atau bisa juga manusia. Pada kondisi endemi, sumber penularan sudah ada dan menetap di daerah setempat.

Bibit penyakit bisa saja tumbuh bermutasi menjadi agak berbeda dari daerah asal, lantaran proses adaptasi dengan habitat yang baru. Pada 1920-an, satu tim peneliti dari Sekolah Kedokteran Stovia Batavia menemukan kasus malaria di daerah pegunungan di Cianjur. Rupanya, ada nyamuk Anopheles varian gunung yang juga dapat menjadi host bagi kuman parasit Malaria yang terbawa dari dataran rendah Batavia.

BACA  Tiga Program Prioritas Kemenperin Agar Industri Pengolahan Tetap Melaju

Nyamuk gunung ini menggigit orang berpenyakit malaria yang mudik ke Cianjur. Kuman dari darah pasien terbawa ke tubuh nyamuk, dan ia menularkannya ketika menggigit ke orang yang berbeda. Wabah pun meluas jangkauannya.

Dalam konteks endemi Covid-19, sebagaimana disebut Menko Luhut Pandjaitan, ancaman penularan tidak lagi harus dari orang luar, melalui tamu mancanegara, turis asing, atau arus mudik lebaran. Ia menghuni secara tetap di satu wilayah. Virus Covid-19 telanjur tak akan hilang karena menumpang hidup dari satu ke orang lain, tanpa harus selalu menunjukkan gejala klinis secara dini.

Pandangan optmistik menyatakan, cukup banyak orang yang akan mendapatkan perlindungan oleh kekebalan dari vaksinasi atau infeksi alamiah, sehingga mereka akan lebih sedikit menularkan, lebih sedikit menjalani rawat inap, dan menghadapi kematian terkait Covid-19, meski virus ini terus beredar. Risiko yang dihadapi menyusut. Ancaman endemi juga bisa dikelola.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.