Lamongan, tambahasil.com – Semilir angin pantai utara berhembus lembut di antara perahu nelayan, mengibarkan bendera-bendera kecil yang beraneka warna. Cuaca cerah dan gelombang laut yang tenang menghangatkan suasana pagi di Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Beberapa nelayan paruh baya tengah memperbaiki perahu dan kelengkapannya, beberapa lainnya terlihat sibuk mendaratkan rajungan hasil melaut. Tampak seorang penyuluh perikanan bernama Toha Muslih (45 tahun) begitu ramah menyapa nelayan sambil mencatat hasil tangkapan rajungan hari ini.

Desa Paciran populer dengan sebutan Kampung Rajungan, karena sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan rajungan. Tercatat sebanyak 1.142 nelayan tergabung ke dalam tujuh Kelompok Usaha Bersama (KUB). Tak ayal, produksi rajungan mampu menggerakkan ekonomi desa, bahkan berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Setiap tahunnya, rata-rata hasil tangkapan rajungan mencapai 389.250 kg dengan taksiran nilai produksi lebih dari Rp46 miliar. Bahkan berhasil menembus pasar ekspor, terutama Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan.

BACA  Percontohan Penyuluhan Perikanan Budidaya Lobster Sistem Karamba Dasar

Tak hanya itu, kegiatan hilirisasi usaha rajungan sudah berjalan aktif. Setidaknya terdapat sembilan Unit Pengolahan Ikan (UPI) berskala mikro dan kecil atau disebut miniplant dan telah tergabung ke dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Gampang Rukun dan Poklahsar Persaudaraan Ibu Nelayan (PIN). Penyerapan tenaga kerjanya pun melibatkan masyarakat setempat yang kebanyakan istri nelayan dengan rata-rata pekerja 10-80 orang per miniplant. Khusus untuk Poklahsar, Toha memberikan pendampingan legalitas perizinan usaha seperti Nomor Induk Berusaha, Pangan Industri Rumah Tangga, dan Halal Majelis Ulama Indonesia.

Plt. Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kusdiantoro menyampaikan pengembangan SDM di kampung tersebut sebagai dukungan terhadap program prioritas yang menjadi terobosan KKP. Salah satunya adalah pembangunan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan terdapat tiga kategori kampung, yaitu kampung perikanan budidaya pedalaman untuk komoditas air tawar; kampung perikanan budidaya pesisir untuk komoditas payau; serta kampung perikanan budidaya laut. Pada rapat kerja dengan Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, 18 Januari lalu, Menteri Trenggono menyampaikan, pembangunan kampung perikanan merupakan salah satu program yang akan diakselerasi pada tahun 2022. Menurutnya, pembangunan tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dan mendorong pembangunan di berbagai daerah.

BACA  Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia Dengan Kontes ”Masterclass Kopi vs Ikan”

Hal tersebut terjadi salah satunya di Paciran. Kesejahteraan yang dirasakan nelayan Paciran tentunya tak lepas dari kiprah penyuluh perikanan yang sehari-hari mendampinginya. Toha masih teringat betul pertama kali ia ditugaskan menyuluh di Desa Paciran pada 2011 silam. Kehidupan nelayan begitu pas-pasan dengan hasil tangkapan yang minim.

“Saya melihat potensi rajungan yang besar, sayangnya masyarakat masih hidup secara individu. Mereka akan besar jika memiliki kelembagaan sendiri. Untuk itu, saya berinisiatif membentuk kelompok sebagai wadah usaha nelayan,” ujar Toha.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.