Seorang penjual merapikan cinderamata PON XX PAPUA di lokasi Mimika Expo, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (8/10/2021). Salah satu cinderamata adalah Noken tas tradisional khas Papua yang dijual dengan harga berkisar Rp100.000,00 hingga Rp500.000,00. Penjualan noken diharapkan dapat mengangkat ekonomi warga Papua di masa pandemi. InfoPublik/Ryiadhy BN

Banyak cerita menarik dari perhelatan PON XX Papua. Mulai dari harga noken, tas rajutan tangan khas Papua yang dijual dengan harga Rp4 juta, hingga penjual boneka PON dari Bandung.

Jayapura, tambahasil.com – Noken, merupakan istilah lain dari tas yang terkenal di daerah pegunungan tengah dan pantai utara Papua. Tapi di tanah Marind, atau Papua Selatan, noken disebut sebagai toware. Noken terbuat dari rajutan benang nilon, serat kayu, kulit pohon anggrek atau pelepah pandan rawa. Harganya pun bervariasi. Ada yang cuma Rp100 ribu, tapi ada juga yang mencapai 4 jutaan rupiah.

Noken rajutan dari serat kayu rata-rata harganya antara Rp100 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung ukurannya. Ukuran kecil 15×15 cm dipatok dengan harga Rp100 ribu, tapi untuk noken yang ukuran besar, yaitu 40×40 cm, dijual dengan harga Rp600 ribu. Sedangkan untuk noken kuning yang disulam dengan dahan anggrek harganya mencapai Rp3–5 juta dengan ukuran 35×40 cm. Kenapa jenis noken dari Paniai atau Nabire itu lebih mahal? Para perajin oleh-oleh khas Papua mengungkap adanya kesulitan tersendiri untuk mendapatkan bahan kulit pohon anggrek.

BACA  Putusan Judicial Review MK UU Cipta Kerja

Walau begitu, secara umum, menemukan penjual noken di saat perhelatan PON relatif lebih mudah dibandingkan dengan penjual boneka PON. Bahkan di Kota Jayapura, Sentani, Merauke, maupun di Timika, saat PON berlangsung, cukup banyak ditemukan penjual noken yang menawarkan dagangannya di sekitar venue, baik dengan menggelar tenda maupun yang mendirikan toko semi permanen.

Bahkan di Kota Jayapura, Festival Noken di Taman Imbi itu digelar bersamaan dengan PON XX pada 2–15 Oktober 2021. Di tempat tersebut, puluhan mama-mama Papua dari pegunungan menggelar noken, ikat kepala, gelang, kalung dan manik-manik lainnya. Bahkan sebagian mereka juga menggelar dagangannya di kompleks pameran 100 kios UMKM kopi.

BACA  Siapkan Strategi Untuk Hadapi Pandemi Akan Jadi Endemi

PON XX Papua oleh masyarakat setempat memang dijadikan sebagai ajang berjualan berbagai macam kebutuhan para atlet, ofisial, maupun penonton. Ada yang berjualan pernak-pernik PON, misalnya kaos, topi, gelang, gantungan kunci, pulpen, bahkan ada pula yang berjualan makanan khas Papua, seperti papeda dingin atau papeda bungkus.

Boneka Maskot Kangpho dan Drawa juga dijual dengan beragam variasi ukuran dan harga. Boneka ukuran kecil (tinggi sekitar 25 cm) dijual antara Rp250.000–Rp350.000 sepasang. Sedangkan yang lebih besar dijual Rp500.000 sepasang. “Kami ambil barang dari Cikampek dan Bandung,” kata Maman (37), sang penjual boneka.

Lain Maman lain pula Usep (40). Usep punya gerai “semi resmi” dengan menyewa lapak milik masyarakat Kampung Harapan. Letaknya tak jauh dari tempat Maman menjajakan dagangannya. Ia menyewa lahan ukuran 2×4 meter di samping trotoar dengan harga sewa 200.000  rupiah per hari.  “Alhamdulillah, uang sewa bisa tertutup,” katanya. Selama beberapa hari berjualan, kata dia, sudah 800 buah boneka yang terjual dari total 1.500 pasang yang disiapkannya.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

Website Protected by Spam Master