Banyuwangi, tambahasil.com – Debur ombak mengalun bagaikan sebuah irama. Pagi itu, terik matahari begitu terasa di ujung timur Pulau Jawa. Di bawah rerindangan pohon cemara, tampak Fariana Banyu Kartika (Rian) bersama beberapa orang tengah membuat sebuah wadah berkerangka besi berbalutkan jala berwarna biru. Wadah berbentuk bulat berdiameter sekitar 3 meter itu merupakan karamba dasar untuk budidaya lobster. Penambahan karamba dasar ini, menjadi salah satu bukti, program Percontohan Penyuluhan Perikanan Budidaya Lobster Sistem Karamba Dasar yang diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Juli tahun lalu telah berhasil diadopsi masyarakat.

Program ini tentunya tak akan berhasil tanpa pendampingan Rian sebagai penyuluh perikanan yang sehari-hari mendampingi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Pesona Bahari. Sejak tahun 2011, Rian telah mengabdi sebagai penyuluh perikanan Kabupaten Banyuwangi. Hampir seluruh kecamatan di Banyuwangi pernah ia tangani, hingga akhirnya saat ini ia ditugaskan di Kecamatan Wongsorejo. Sosoknya yang ulet dan santun membuatnya disegani para nelayan dan pembudidaya.

Menjalani profesi sebagai seorang penyuluh perikanan merupakan cita-citanya sejak mengenyam Pendidikan pada Prodi Penyuluhan Perikanan di Sekolah Tinggi Perikanan yang kini bernama Politeknik Ahli Usaha Perikanan. Selama 10 tahun pengabdiannya, Rian memahami betul potensi perikanan di Bumi Blambangan. Bersama Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi, Rian senantiasa berkolaborasi dalam memberikan layanan penyuluhan guna mengupas permasalahan yang dihadapi masyarakat.

BACA  Menaikkan Produktivitas dan Nilai Tambah Ikan Air Tawar Di Indonesia

Kiprahnya dalam mengawal program percontohan penyuluhan dibilang cukup sukses. Berkatnya para pembudidaya setempat berhasil menghasilkan lobster kualitas unggul yang siap memasuki pasar global. Inovasi budidaya lobster karamba dasar ini telah diadopsi oleh 4 kelompok pelaku utama dan 2 kelompok pengusaha besar di Banyuwangi atau berkisar 197 karamba. Usaha budidaya lobster di Banyuwangi pun tumbuh pesat, tak ayal jika lobster dijadikan ikon Banyuwangi.

Jauh sebelum itu, siapa sangka Banyuwangi khususnya di Pantai Bangsring kerap terjadi perburuan para “nelayan nakal” yang melakukan destructive fishing dengan bom atau potasium. Tak jarang terdengar bunyi ledakan yang menandakan sedang terjadinya penangkapan ikan secara ilegal. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat pesisir yang dipelopori Abdul Azis (46 tahun) mulai menentang dan melawan aksi tersebut dengan berbagai cara. Penyuluh perikanan bersama BPPP Banyuwangi dan aparat setempat pun turun tangan dalam menghentikan praktik itu. Di sisi lain, dilakukan penyadaran kepada para pelaku untuk mulai beralih ke penangkapan ikan yang ramah lingkungan ataupun budidaya perikanan.

BACA  Bangun Pusat Daur Ulang di Muara Gembong Bekasi Perangi Sampah Plastik

Kini tak ada lagi perilaku buruk semacam itu. Masyarakat pesisir mulai sadar bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga sumber daya yang ada. Berdirinya Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Pesona Bahari pada tahun 2015 merupakan momentum dimana para pemuda Bangsring mulai percaya diri dan lebih semangat untuk mengelola pesisir dengan terus membersihkan dan menghijaukan pantai sehingga terlihat lebih indah dan berpenghuni.

Selain berkelembagaan POKMASWAS, Pesona Bahari juga membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang berfokus pada kegiatan perikanan tangkap. Ada kebiasaan unik yang kerap dilakukan anggota kelompok. Pada saat gelombang laut bersahabat, para nelayan akan turun untuk mencari ikan bermodalkan snorkel, masker, fin, dan speargun di tangan seakan-akan hendak berburu di dalam laut. Selanjutnya hasil tangkapan seperti kerapu, cumi, gurita, dan ikan-ikan karang lainnya dijual kepada pengepul atau untuk dijadikan teman nasi di rumah.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.