Jakarta, tambahasil.com – Setelah berhasil dengan panen parsial perdana pada pertengahan bulan Februari tahun ini, tambak klaster percontohan budidaya udang vaname di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh kembali melakukan panen parsial tahap kedua sebanyak 8,5 ton. Sehingga dalam waktu pemeliharaan sekitar kurang lebih 3 bulan berhasil panen udang sebanyak 12,5 ton atau dengan nilai sekitar Rp671.900.000.

Tambak klaster percontohan  ini sendiri merupakan perwujudan program terobosan yang diusung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk dapat meningkatkan produktivitas tambak melalui revitalisasi tambak tradisional. Seperti diketahui, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) memiliki dua program terobosan pada subsektor perikanan budidaya salah satunya yaitu pengembangan perikanan budidaya untuk ekspor dengan komoditas unggulan antara lain udang, lobster, kepiting dan rumput laut.

Direktur Jenderal  Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu atau biasa disapa Tebe menyatakan bahwa revitalisasi untuk meningkatkan produktivitas lahan tambak tradisional seperti yang dilakukan di Aceh Tamiang merupakan salah satu strategi yang disiapkan oleh KKP untuk mendukung pencapaian target produksi udang nasional menjadi 2 juta ton hingga tahun 2024.

BACA  Meranti Kampung Perikanan Budidaya Kakap Putih

“Konsep yang dibangun menggunakan peningkatan teknologi dari sistem tradisional menjadi intensif pada kawasan yang dibangun berbentuk klaster percontohan yang dapat meningkatkan produktivitas tambak dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Sehingga dampak yang dirasakan oleh masyarakat bukan hanya didapatkan dari sisi ekonomi namun juga dari sisi ekologi,” urai Tebe.

Tebe berharap keberhasilan dari pembangunan tambak udang berbasis kawasan yang telah dibangun oleh KKP di beberapa daerah, diharapkan dapat memicu pembudidaya udang di sekitar kawasan untuk dapat mereplikasi sistem budidaya yang ada. “Peningkatan produktivitas dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan usaha budidaya akan turut berdampak kepada penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya,” pungkas Tebe.

BACA  Pelatihan Diversifikasi Olahan Hasil Perikanan 

Sementara itu, Taufik salah seorang pembudidaya dari kelompok Mina Jaya Tamiang di Desa Dagang Setia, Kabupaten Aceh Tamiang merasa optimis dengan hasil produksi dan ilmu yang telah mereka dapatkan melalui pembangunan klaster percontohan tambak udang di desanya. “Sebelum pembangunan, pendapatan kelompok kami dalam berbudidaya udang sistem tradisional menggunakan petakan lahan yang kini dibangun klaster, dalam satu siklus berkisar antara Rp15-20 juta. Setelah menggunakan teknologi intensif dengan padat tebar dapat mencapai 100 ekor/m3, serta melihat kondisi terkini, dengan harapan hingga panen total nanti bisa mencapai target panen sekitar 26,6 ton. Dan nanti dari hasil panennya kami akan sisihkan untuk siklus berikutnya, dan juga untuk mencetak lahan baru,” beber Taufik.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.