Untuk mengendalikan banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Jawa Barat, pemerintah membangun Kolam Retensi Andir. Dua kolam retensi dan lima kolam polder telah selesai dibangun untuk mengamankan Cekungan Bandung dari genangan rutin.

Jakarta, tambahasil.com – Penanggulangan banjir Sungai Citarum di kawasan Bandung Selatan terus mencatatkan kemajuan. Balai Besar Wilayah Sungai  (BBWS) Citarum, sebagai kepanjangan tangan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan bahwa Kolam Retensi Andir di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, telah beroperasi penuh di puncak musim hujan saat ini. Kolam itu bisa membebaskan 149 hektare permukiman di sekitarnya dari ancaman banjir rutin.

 ‘’Alhamdulillah, kolam retensi ini sudah beroperasi. Begitu pompa terpasang, kolam retensi sudah berfungsi,’’ ujar Bastari, Kepala BBWS Citarum, awal Januari 2022 lalu. Tiga unit pompa air, masing-masing berkapasitas 500 liter per detik, siap mengamankan kolam itu agar mampu menampung air limpasan hujan dari area sekelilingnya. Daya tampungnya 160.000 m2

BACA  Presiden Tiba di Tanah Air dan Karantina Mandiri di Istana Bogor

Kolam retensi itu rampung dikerjakan dalam satu tahun. Lokasinya di pinggir Sungai Citarum. Luas kolam 4,85 meter, dengan kedalaman rata-rata 6 meter. Kolam ini akan menampung air limpasan hujan dari pemukiman seluas 149 hektare . Jika terjadi hujan lebat dan permukaan air Kali Citarum naik, maka aliran air akan digiring masuk ke kolam.

Kelurahan Andir, seperti halnya sejumlah titik lain di Kecamatan Baleendah yang berada di tepian Citarum, adalah kawasan yang biasa disebut Cekungan Bandung. Ia berada di  titik terendah pada kawasan lembah Bandung Raya. Pada musim hujan, areal  Cekungan Bandung itu biasa terendam. Tanggul tinggi di tepian kali tak bisa menghindarkannya dari genangan.

Hal serupa terjadi di kawasan banjir lainnya seperti Kecamatan Dayeuhkolot dan Bojongsoang. Di saat hujan lebat, muka air Citarum sama tinggi atau bahkan lebih tinggi dari area permukiman itu. Situasi diperparah dengan adanya air hujan di kawasan tersebut yang tidak bisa mengalir ke mana-mana. Aliran air limbah rumah tangga juga macet. Genangan makin tinggi.

BACA  Museum Nasional Indonesia Menampilkan Wahana Baru

Rekayasa Kolam Retensi Andir memotong lingkaran setan itu. Ketika air Citarum meninggi akibat hujan lebat, seluruh akses air dari dan menuju Citarum ditutup rapat. Pada saat yang sama pompa air bekerja, menyedot air kolam dan membuangnya ke Kali Citarum.

Pengelolaan Kolam Retensi Andir memang memerlukan rekayasa teknis. Selokan-selokan air di areal tangkapan hujan, yakni area permukiman seluas 149 hektare itu, diintegrasikan, dan masuk ke alur anak sungai yang sudah lama ada. Di mulut anak sungai itu dibuat pintu air yang kokoh. Bila hujan lebat turun, pintu ditutup dan air dialirkan ke kolam retensi. Agar tidak meluap, air kolam dipompa dan dibuang ke Sungai Citarum. Tanggul tinggi menahan air limpasan itu agar tidak kembali masuk ke kawasan pemukiman.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.