Dengan 324 zona musim, kasus banjir, dan longsor bisa terjadi sepanjang tahun. Pemerintah terus menguatkan indeks ketahanan daerah (IKD) untuk mengurangi risiko kebencanaan.

 

Jakarta, tambahasil.com – Banjir melanda Desa Landikanusuang dan Rappang Barat di Kecamatan Mapilli, Polowali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), Sabtu (4/9/21) petang. Hujan dengan intensitas tinggi sejak siang telah membuat debit Sungai Andau, Kanusuang, dan Salu Kadundung meningkat  cepat dan air meluap menggenangi area rendah di dua desa itu. Genangan terdalam mencapai 100 cm.

Tak ada korban jiwa. Namun, dilaporkan ada kerusakan pada dua unit jembatan gantung, 21 hektare kebun kakao, dan 100 hektare sawah. Genangan juga cepat surut, sehingga warga dapat bergotong-royong dengan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Polowali Mandar dan aparat TNI-Polri untuk membersihkan lumpur dan sampah banjir yang bertumpuk di jalan-jalan, tempat ibadah, dan fasilitas umum di  lingkungan desa. Senin pagi, situasi sudah beranjak normal.

Persis sehari sebelumnya, banjir juga melanda dua desa di Kecamatan Kulaku, Kabupaten Mamuju, Sulbar. Hujan yang turun hampir semalaman membuat air Sungai Kulaku meluap dan menggenangi sebagian permukiman di kedua desa. Sekitar 100 rumah terendam. Tak ada korban jiwa, dan tingkat kerusakan terbatas.

BACA  PON XX Menggerakkan Perekonomian dan Membantu UMKM

Di tengah kering kemarau yang kini memanggang 85 persen dari 342 zona musim di Indonesia, kasus banjir dan tanah longsor masih mewarnai peristiwa kebencanaan di tanah air. Di luar dua kejadian banjir di Polowali Mandar dan Mamuju, bencana serupa terjadi Mandailing Natal, Sumatra Utara, 18 Agustus; Kapuan Hulu, Kalimantan Barat, 23 Agustus 2021; dan Kampar Hulu, Riau, 3 September 2021. Banjir lainnya juga tercatat merendam dua desa di Kecamatan Panca Lautang dan Due Pitue di Sidenreng Rappang, Sulsel. Genangannya tidak terlalu berat.

Namun yang mengagetkan banjir, longsor, dan puting beliung itu juga terjadi di Sampolawa, Buton Barat, Sulawesi Tenggara, pada 28 Agustus 2021. Bahkan, dini hari Sabtu, 4 September 2021, banjir bandang dan longsor menerjang Kampung Malapedho, Kecamatan Ingerie, Kabupaten Ngada, Flores, NTT. Di Kampung Malapedho itu sebanyak lima rumah warga ambruk dihantam tanah longsor dan satu lainnya tertimbun. Dua orang ditemukan tewas dan satu lainnya masih hilang.

Buton Barat dan Ngada dilanda banjir bandang justru ketika wilayah sekelilingnya kering kerontang. Di sejumlah daerah pesisir Selatan Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menjalani periode tanpa hujan selama lebih dari 60 hari. Sedikit di luar Kota Kupang, ibu kota NTT, bahkan ada yang area yang sudah lima bulan tak menerima setetes pun air hujan.

BACA  Anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa Untuk Kesejahteraan Rakyat

Efek Gelombang Rossby

Evaluasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, hujan lebat yang jatuh di Buton Barat itu akibat pengaruh gelombang equatorial Rossby, yakni angin basah yang berembus dari Samudra Hindia ke arah Timur, menyusuri sepanjang khatulistiwa dan melewati Indonesia dan menghilang setelah menyentuh bibir Pasifik. Di Buton, angin lokal dan topografi setempat berhasil membelokkan gelombang Rossby itu sehingga naik dan membentuk awan tebal dan matang. Hujan pun turun.

Uap air yang terbawa arus gelombang Rossby itulah yang berinteraksi dengan kondisi lokal, dapat menciptakan awal hujan. Fenomena itu pula yang menyebabkan terjadinya hujan lebat dan banjir di Mandailing Natal (Sumut), Kampar Hulu (Riau), Kapuas Hulu (Kalbar), Polewali Mandar, Mamuju, serta Sidenreng.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.