Papua mengerahkan ribuan relawan di berbagai bidang agar pelaksanaan PON bisa berjalan aman dan lancar serta mampu memberikan kesan tak terlupakan bagi siapa saja. Torang Bisa!

Jakarta, tambahasil.com – Terik mentari di Rabu siang, 22 September 2021, seperti ingin membakar ubun-ubun kepala. Panasnya cuaca di Bandar Udara Internasional Sentani, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, tak menyurutkan semangat Helen.

Mahasiswi sebuah peguruan tinggi di Kota Jayapura, satu jam dari Kota Sentani, itu memakai rok rumbai berbahan daun sagu kering. Di lehernya terkalung hamboni, semacam manik-manik batu aneka warna. Beberapa bagian tubuhnya terukir motif-motif khas warna putih dari kapur barus. Gadis cantik ini terus mengumbar senyum. Ia seolah tak peduli dengan butir keringat yang mulai menetes dari keningnya dan mengalir ke pipi yang diukir motif unik memakai pewarna merah dan hitam.

Pakaian serupa juga dikenakan oleh Diaz, pemuda asal Sentani. “Selamat datang di Papua,” begitu ucapan yang meluncur dari bibir keduanya sambil melepaskan senyum. Ucapan ramah itu mereka sampaikan saat serombongan pria-wanita berjaket serba kuning terang bertuliskan huruf kapital Kaltim keluar dari pintu kaca otomatis kedatangan bandara.

Helen dan Diaz bertugas menjadi penyambut peserta Pekan Olahraga Nasional di tanah kelahiran mereka, Papua. Mereka tak sendiri, ada sekitar delapan pasang pemuda-pemudi Papua lainnya berpakaian rumbia dengan motif ukiran dari kapur barus di tubuh.

BACA  Penyelenggaraan PON XX Menggambarkan kemajuan Papua

Di sudut lain, dalam sebuah stan pusat informasi, tampak Edwin sedang membolak-balik lembaran kertas. Jari telunjuk pria gempal ini menunjuk beberapa tulisan di kertas tersebut dan mulutnya berkomat-kamit seperti sedang berbicara sendiri. Pria dengan rambut nyaris memutih ini bertugas memantau jadwal penerbangan dan memastikan di dalamnya terdapat rombongan peserta PON Papua.

Tak jauh dari Edwin duduk, seorang pria lainnya sedang dikelilingi oleh beberapa orang berkaus putih bertuliskan PON Papua. Sepertinya ia sedang memberi pengarahan kepada orang-orang tersebut lantaran terlontar ucapan “Apakah paham?” dan langsung disambut jawaban “Siap!” dengan nada tinggi sehingga menarik perhatian sekitar.

Arthur Paris, demikian nama yang tertera di kartu identitas berlambang PON Papua yang dikalunginya, berposisi sebagai project officer (PO) dengan penugasan di bandara terbesar di Bumi Cenderawasih tersebut. Ari, begitu ia disapa, merupakan koordinator penyambutan kontingen PON Papua.

Pria ramah dengan tato merajah beberapa bagian tubuhnya itu menjelaskan, setiap harinya selalu ada cerita menarik saat mengurus kedatangan kontingen. “Tak selamanya apa yang tertera di jadwal, lalu sama seperti kenyataannya. Misalnya mengenai waktu kedatangan pesawat, jika tidak ada penundaan di bandara asal, biasanya akan tiba tepat waktu di Sentani dan begitu juga sebaliknya,” kata Ari.

Hal serupa juga terjadi pada jumlah kontingen di tiap penerbangannya. Berapa pun jumlahnya, ia harus memastikan semua perangkat relawan seperti Helen dan Diaz harus siaga menyambut para atlet dan ofisial dari seluruh Indonesia yang masuk ke Papua hari itu. Ia juga harus memastikan para pahlawan olahraga dari berbagai daerah itu langsung menuju bus yang akan mengantar ke Stadion Barnabas Youwe.

BACA  Kepala Negara Memandang Adanya Optimisme Masyarakat Indonesia

Di lokasi berjarak tak sampai tiga kilometer dari Bandara Sentani itu, seluruh kontingen setiba di Papua akan langsung diperiksa Kartu Kewaspadaan Kesehatan Elektronik (electronic-Health Alert Card/E-HAC) mereka di aplikasi PeduliLindungi.

Setibanya di stadion yang diresmikan bertepatan dengan HUT ke-21 Kota Sentani, 10 Maret 2021 itu, para atlet dan ofisial akan langsung didata. Identitas mereka dicatat oleh petugas-petugas berpakaian serba hitam di bawah beberapa tenda putih.

Di tenda lain, tampak dua orang berpakaian hazardous material (hazmat) serba putih lengkap dengan masker dan face shield. Memakai masker dan menjaga jarak menjadi kewajiban yang harus dipatuhi bagi setiap orang di area Stadion Barnabas Youwe.

Kedatangan mereka juga disambut 20 penari berpakaian adat pea malo kuning. Penari pria membawa panah dan tifa, alat musik pukul khas Papua dengan tubuh dibalur kapur dibentuk motif-motif unik. Sedangkan penari perempuan memakai rok rumbia. Para penari dari Sanggar Tari Ariyaa, Sentani kompak menarikan Fela Mandu, tarian khusus menyambut tamu pada acara-acara besar.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.