Mangkunegara ialah satu dari empat kerajaan yang tersisa dari Dinasti Mataram. Dua ada di Solo, yakni Kasuhunan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, dan dua lainnya di Yogyakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Pakualaman.

Jakarta, tambahasil.com – Puro Mangkunegaran Surakarta telah bersiap-siap menyambut kehadiran pangageng (pejabat) yang baru. Dia adalah Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. Musyawarah adat di keluarga inti Mangkunegaran telah menetapkan GPH Bhre, pemuda 24 tahun yang lulusan Fakultas Hukum UI itu menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunagoro X. Ia akan menggantikan ayahandanya, Mangkunagoro IX, yang wafat Agustus 2021.

Ihwal penetapan GPH Bhre sebagai Mangunegoro X itu telah berembus ke publik sejak akhir tahun 2021. Namun, pengumuman secara resmi baru disampaikan oleh pejabat urusan internal alias Wedono Satrio Puro Mangkunegaran. Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Lilik Priarso Tirtodiningrat, Selasa (1/3/2022), kepada wartawan, di Solo. Pada kesempatan itu, Lilik Priarso juga menyatakan bahwa upacara jumenengan ndalem, pengukuhan secara resmi, akan dilakukan 12 Maret 2022.

BACA  Kemandirian Sektor Alat Pertahanan dan Keamanan

Dalam tradisi kerajaan Jawa, penetapan raja baru biasanya dilakukan dalam jangka waktu 100 hari setelah sang raja wafat. Namun dalam kasus suksesi di Mangkunegaran, proses musyarawahnya dilakukan dengan tidak terburu-buru. Musyawarah hanya melibatkan keluarga dalem Puro, yakni istri utama raja (prameswari), putra-putri Mangkunagoro IX dan putra-putri Mangkunagoro VIII, yang disebut sederek ndalem. Pembicaraan dilakukan beberapa kali.

KRMH Lilik Priarso Tirtodiningrat memastikan, tak ada pihal lain yang termasuk Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN), kelompok keturunan dari Mangkunagoro I yang pada masa  orde baru punya pengaruh kuat terhadap kehidupan puro. ‘’Musyawarah ini hanya melibatkan pihak keluarga inti dan sederek ndalem Mangkunagoro IX,’’ ujarnya.

Hasil penetapan suksesi di Praja Mangkunegaran itu menjadi perhatian sebagian masyarakat Jawa. Sejumlah pemberitaannya memviral di media sosial. Meski tak lagi memiliki peran serta pengaruh politik dan ekonomi, Puro Mangkunegara tetap menjadi kiblat budaya tradisional Jawa. Dalam isu ini Mangkunegaran dianggap penting. Keluarga puro tetap menjadi ikon budaya, bahkan  selebriti, di sebagian kalangan masyarakat Jawa. Tak heran, bila isu suksesi ini terus ter-update dari waktu ke waktu.

BACA  Merayakan Hari Konservasi Alam Nasional Menanam Mangrove

Keluarga inti dari almarhum Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunagoro IX itu sendiri ada lima orang. Rinciannya Sang Prameswari Gusti Kanjeng Gusti Putri (GKP) Prisca Marina Yogi Supardi dan dua putranya, yakni Gusti Raden Ayu (GRA) Ancillasura Marina Sujiwo dan GPH Bhre Cakrahutama, serta dua anak lainnya yang lahir dari Sukmawati Soekarnoputri, yakni GPH Paundrakarna Jiwo Suryonegoro, 46 tahun, serta GRA Agung Putri Suniwati, 42 tahun, yang dikenal dengan nama Menur.

Dalam usia muda, 23 tahun, Mangkunagoro IX pernah menikah dengan Sukmawati, di tahun 1974. Saat itu, Mangkunagoro IV masih dikenal sebagai GPH Sujiwo Kusumo. Pasangan ini berpisah tahun 1983, dengan dikaruniai dua anak, yakni Paundra dan Menur.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.