Jakarta, tambahasil.com – Di tengah Pandemi Covid-19 dan potensi ancaman perubahan iklim yang sedang melanda dunia saat ini, Kementerian Pertanian  secara konsisten berupaya menciptakan pertanian Indonesia yang maju, mandiri dan modern dengan terus berinovasi melakukan terobosan-terobasan strategi pembangunan sektor pertanian yang semakin antisipatif dan adaptif.

Dampak perubahan iklim seperti  banjir, kekeringan, sedimentasi, erosi, eksplosi dan hama penyakit yang telah di warning oleh FAO dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) sejak tahun 2020 ini, memberikan dampak bagi sektor pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan.

Untuk itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menekankan pentingnya kesiapan sektor pertanian ditengah kuatnya perubahan iklim global.  Banyak negara yang yang saat ini tengah mengalami kesulitan dalam hal produksi pangan. Namun di Indonesia sektor pertanian justru menunjukkan kinerja yang baik. Menurut data BPS pada Triwulan II 2020 PDB sektor pertanian tumbuh 16,24% q-to-q.

BACA  Inovasi Pertanian Yang Mampu Beradaptasi Dengan Perubahan Iklim

“Seluruh dunia saat ini sedang menghadapi masalah, namun Indonesia termasuk 11 negara yang mampu bertahan menghadapi covid, saya tidak pernah mendengar ada masalah ketahanan pangan, bahkan kita mampu ekspor, nilai ekspor pada tahun 2020 naik 15,79 % dan tahun 2021 naik 47,96 % , sehingga hasil ekspor kita hampir 500 triliun, “ ungkap Mentan SYL saat menyampaikan arahan dalam Webinar bertajuk “Mapping Daerah Rawan Banjir dan Brigade La Nina” yang dilakukan secara virtual, Jumat, (12/11)

Menurut Mentan SYL, antisipasi dini terhadap iklim ektrim telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian melalui berbagai upaya. Langkah antisipasi dini yang dilakukan oleh Kementan untuk memitigasi dampak perubahan iklim khususnya terhadap La Nina, salah satunya adalah membuat srategi brigade La Nina.

“ Saat ini kita harus merasa was-was dan khawatir dengan planet bumi yang sedang mengalami kerusakan dan tanda-tanda kerusakan itu sudah ada di depan mata.  Untuk itu pertanian tidak boleh salah hitung karena menyangkut ketahanan pangan bagi 273 juta rakyat Indonesia, “ ujar Mentan SYL

BACA  Penanaman Pohon Digelar di Kawasan Hutan Gunung Pepe

Mentan SYL mengungkapkan bahwa pentingnya membangun sistem online early warning system dan melakukan koordinasi dengan BMKG untuk memetakan wilayah langganan yang berpotensi mengalami dampak iklim ekstrim (banjir dan kekeringan) serta hama penyakit.

“ Agar produktivitas tidak bermasalah, kita perlu menampung air ketika sedang mengalami curah hujan tinggi seperti yang sedangf terjadi saat ini. Jangan biarkan air hujan terbuang percuma sampai di laut. Untuk itu kita harus memperbanyak embung disetiap daerah untuk menampung air hujan guna menghadapi kemarau panjang sesudah ini, “ ujarnya.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.