Katulampa, tambahasil.com – Aset utama pertanian adalah petaninya. Sebuah negeri dengan tanah yang subur, air berlimpah dan matahari sepanjang tahun, tidak otomatis menjadi sejahtera tanpa peran manusianya. Kerja keras, kreativitas, kemauan belajar dan kemauan bersinergi adalah kunci mengelola sumber daya alam pertanian.

Karena itulah membangkitkan anak- anak muda yang akan menjadi agripreuneur menjadi pilar pembangunan pertanian. Bagaimana pertanian Indonesia di masa depan tergantung dari apa yang akan dilakukan oleh generasi baru petani Indonesia.

Jika kita dapat membangkitkan generasi baru petani Indonesia yang memiliki mental seorang agripreneur, maka kita akan mampu menjadi negara agraris yang maju dan terkemuka, dimana faktor alam yang sudah mendukung akan dikelola oleh orang-orang yang bersemangat dan kreatif.

Itulah yang terus menerus kami sampaikan sejak 2011, ketika kami mulai berbicara kepada orang-orang yang datang ke KPPMD, bahwa adalah sangat mendesak dan penting untuk mulai berbicara kepada anak-anak muda kita bahwa ada kesempatan dan peluang di dunia pertanian.

Peluang untuk menjadi agripreneur masa depan, dimana kami menyebutnya Future Farmer, yang jika saja mereka cukup tekun dan kreatif, dengan didukung arahan dan pembinaan yang tepat, mereka akan bisa berhasil.

BACA  Gerakan Feed Bali Diinisiasi Sepasang Suami Istri Menolong Ribuan Keluarga

Mereka tidak perlu berdesakan dalam kereta api commuter line dan busway dengan kebanyakan orang yang mencari pekerjaan di perkotaan. Malahan, dengan keberhasilan yang akan mereka alami, mereka dapat memberikan lapangan kerja bagi anak-anak muda lain dan memberikan kesempatan kemitraan dengan petani lain yang selama ini terus terpinggirkan sebagai petani tradisional.

Saya membayangkan munculnya para pahlawan (wira) tani yang akan menarik konsentrasi kehidupan tidak melulu ke kota-kota besar, tetapi akan mulai ada daerah-daerah pertanian yang ramai, karena disana akan mulai terbangun menjadi sentra-sentra komoditas. Dan bukan hanya sebagai sentra penanaman komoditas, tetapi juga sentra pengolahan komoditas tersebut untuk memiliki nilai tambah.

Setiap peningkatan nilai tambah tentu saja akan memberikan lapangan pekerjaan, dan ini akan membuat daerah sentra tersebut menjadi area yang ramai dengan orang-orang yang produktif. Kita tidak ingin bahwa hanya satu daerah menjadi sentra dari segala komoditas, tetapi terbangun banyak sentra komoditas berdasarkan kesesuaian agroklimat wilayah dengan setiap komoditas tertentu.

BACA  Kekayaan Pertanian Indonesia: Sudahkah Kita Memanfaatkan Matahari Yang Terbit Sepanjang Tahun

Bahkan ini yang akan bisa terjadi, anak-anak muda yang telah meninggalkan desa-desa menuju kota untuk mengadu nasib, akan kembali membangun desanya karena sekarang telah tersedia peluang di tempat asal mereka, karena ada orang-orang yang telah mengawali sebuah pembangunan pertanian berorientasi masa depan.

Akan terjadi arus balik urbanisasi, karena masa depan ada di lahan-lahan pertanian yang selama ini diabaikan dan dianggap tidak memiliki masa depan.

Desa-desa yang dibangun sebagai sentra komoditas akan memiliki daya tarik, apalagi jika kita dapat membangun iklim usaha tani yang bersinergi dan kondusif untuk munculnya para wirausaha tani yang baru.

Saya berharap generasi baru petani Indonesia akan membangun iklim usaha yang tidak melulu memikirkan untung banyak dalam waktu yang cepat, tetapi mengabaikan perlunya dibangun sinergi dan menciptakan pemerataan kemakmuran diantara orang-orang yang rajin dan kreatif. Tentu saja dalam hal ini kita tidak akan memberikan peluang kepada orang malas dan bodoh (artinya tidak mau belajar dan tidak bersedia diajar).

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.