Diduga karena pelumpuran dan pendangkalan, air hujan yang turun berhari-hari tidak bisa cepat menghilir. Genangan banjir melanda tujuh kabupaten. Sintang paling parah.

Sintang, tambahasil.com – Di beberapa pos pemantauan, air terlihat mulai beringsut susut 20–30 cm. Namun, situasi masih jauh dari kondisi surut. Sampai Minggu (14/11/21), genangan air masih terjadi di mana-mana, bahkan ada rumah warga yang terbenam sampai setinggi 3 meter. Lalu lintas darat Kota Sintang dan wilayah sekelilingnya masih lumpuh oleh genangan banjir yang telah berlangsung tiga minggu.

‘’Kondisi air memang mulai menyusut baik di Sungai Kapuas maupun Sungai Melawi, tapi genangan masih terjadi di kedua aliran sungai. Bantuan dan pelayanan untuk warga yang terdampak terus kita lakukan,’’ begitu laporan dari Fidelis Asdi, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPB) Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, seperti dirilis portal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BACA  Paviliun Indonesia di Dubai 2020 Expo

Hingga Sabtu (13/11/21), BPBD Sintang menginformasikan bahwa banjir masih merendam sejumlah kawasan di 12 kecamatan. Titik-titik genangan umumnya ada di area tepian Sungai Kapuas maupun Melawi, serta anak-anak sungainya. Yang pang parah adalah Kota Sintang, karena merupakan lokasi pertemuan kedua sungai besar itu.

Sebanyak 10.381 KK (keluarga), terdiri dari 33.221 jiwa, masih mengungsi. Sebagian mereka bahkan telah meninggalkan rumah mereka yang terendam sejak 21 Oktober 2021. Mereka ditampung di 32 pos pengungsian yang dioperasikan BPBD Sintang. Pos pengungsian tersebut didukung 24 dapur umum. Pos pengungsian dan dapur umum ini tersebar pada 12 kecamatan, dan didirikan di titik-titik yang aman dari limpasan air sungai.

Serbuan banjir ini cukup mengguncang kehidupan Sintang. Saat ini, tidak kurang dari 88 ribu warga (29,5 ribu KK), atau sekitar 21 persen populasi Sintang, terdampak secara langsung. Mereka adalah warga Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Serawai, Dedai, Ambalau, Sei Tebelian, dan Kelam Permai. Pada puncak banjir, 9-10 November, ada 140.000 ribu jiwa (33 persen) yang terdampak.

BACA  Papua Akan Tumbuh Lebih Tinggi Dari Pertumbuhan 14% di 2021

Sejauh ini, musibah banjir itu menelan korban jiwa dua orang, mengakibatkan lima jembatan rusak berat dan ribuan rumah terendam. Pemkab  Sintang menetapkan tanggap darurat bencana hingga 16 November 2021 dan akan diperpanjang bila diperlukan. Sepanjang masa darurat, BPBD Sintang mengoperasikan lima pos lapangan guna melayani kebutuhan dasar warga utamanya makanan dan layanan kesehatan.

“Kami setiap hari melakukan pelayanan dari pos lapangan,” ujar petugas BPBD Sintang Fidelis Asdi. Bantuan dikirim melalui jalur air bila jalan darat terganggu.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.