Empat ekor bayi badak jawa lahir setahun terakhir di Taman Nasional Ujungkulon. Populasinya kini ada 75 ekor. Dijajaki kemungkinan memindahkan sebagian ke taman Nasional Halimun-Salak.

Luther umurnya sekitar satu tahun. Culanya masih kuncup. Anak badak jawa yang berjenis kelamin jantan ini sesekali terlihat lewat kamera pemantau, berjalan beriringan bersama induknya, Palasari, di sebuah jalan setapak menuju rawa-rawa  kecil di tengah Taman Nasional (TN) Ujungkulon, Banten. Pada saat yang lain, Helen terlihat  bersama induknya, Ambu, berjalan santai menuju sebuah kolam lumpur untuk berkubang.

Helen berjenis kelamin betina. Bersama Luther, mereka ada dalam empat bayi badak yang dipastikan lahir dalam setahun terakhir di Ujungkulon. Dua bayi yang lain belum diberi nama, yang salah satu di antaranya berumur 3–4 bulan yang merupakan anak dari induk badak bernama Rimbani, seekor ibu muda yang terpantau sejak lama dan dikenali silsilahnya. Rimbani adalah anak Ratih.

BACA  PT Pelabuhan Indonesia Menjadi Perusahaan Induk Sektor Kepelabuhanan

Dengan kelahiran empat ekor bayi itu, populasi badak jawa (Rhinoceros sundaicos) di Ujungkulon ada 75 ekor. Populasi terbesar yang pernah tercatat pada sepanjang sejarah pengelolaan TN Ujungkulon. Pada 1967 populasinya diperkirakan tinggal 25 ekor, naik menjadi 56 ekor pada 1982, turun lagi ke 47 ekor di tahun 1992, dan kini berkembang mencapai 75 ekor.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno menyatakan bahwa kelahiran empat anak badak jawa di Ujungkulon ini merupakan salah satu contoh keberhasilan  perlindungan penuh (full  protection)  badak  jawa dan habitatnya aslinya  di TN Ujungkulon. Badak jawa sebagai flagship species tetap terjaga bahkan berbiak seiring dengan peningkatan kualitas habitatnya.

BACA  Kontribusi Industri Makan Minum Terhadap PDB Nasional Capai 6,66%.

‘’Ini kado Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76,’’ ujar Dirjen KSDAE Wiratno seperti dikutip dalam siaran pers Kementerian LHK yang dirilis 16 Agustus 2021. Sikap optimisme Menteri LHK Siti Nurbaya, terkait kemampuan anak bangsa menjaga flagship species pada habitat masing-masing, terbukti berhasil. Harta pusaka keragaman hayati bisa dipertahankan.

Dalam booklet elektronik Rencana Strategis 2021 Ditjen KSDAE, yang dapat diakses bebas secara online, pada bagian evaluasi disebutkan bahwa ada 25 spesies satwa endemik dan langka yang sedang dikelola secara khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Satwa langka itu tersebar di 48 kawasan ekosistem esensial di Indonesia, termasuk TN Ujungkulon.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.