Jakarta, Tambahasil.com – Tanpa cahaya tanaman tidak dapat melakukan fotosintesa. Air dan nutrisi hanya bisa dimasak oleh daun jika ada cahaya. Cahaya Matahari adalah sumber energi utama di bumi bagi berbagai jenis tumbuhan. Sayangnya tidak semua orang menyadari betapa berharganya cahaya matahari bagi pertanian. Peran sentral matahari bisa disamakan dengan Air dan tanah.

Mereka yang diam di kutub bumi utara atau selatan paling menyadari bahwa cahaya matahari begitu mahal dan berharga. Karena disana, ada bulan-bulan dimana matahari hanya terrbit sebentar dan kemudian tenggelam lagi. Itulah sebabnya kehidupan membeku dan tumbuhan mengalami masa dorman bahkan mati.

Di musim dingin, pertanian di rumah – rumah kaca  di Eropa menggunakan lampu-lampu LED warna biru, karena inilah spektrum warna yang panjang gelombangnya paling diperlukan oleh proses fotosintesa. Sebagai pengganti matahari, lampu-lampu LED yang berharga mahal dan dinyalakan dengan energi listrik yang juga mahal harus ada jika petani di rumah kaca tersebut masih ingin memproduksi sayur atau buah atau bunga potong. Barulah terasa betapa mahalnya energi matahari yang selama ini kita terima dengan cuma-cuma setiap hari dan sepanjang tahun.

Terletak di Khatulistiwa, kita adajah negeri dengan Sinar Matahari yang melimpah sepanjang tahun. Setiap pagi mulai jam  6 atau jam 7 matahari mulai terbit menyinari bumi Indonesia dan akan tenggelam kira –kita pukul enam sore. Selama hampir dua belas jam secara konsisten Matahari bersinar sepanjang tahun. Inilah negeri dimana tidak ada hari dimana matahari lambat bangun dan cepat terbenam. Hanya keberadaan awan yang sering mengurangi intensitas matahari, namun secara konsisten sepanjang tahun lamanya jam matahari bersinar selalu hampir sama.

BACA  Spirit Kerajaan Allah Melanda Indonesia

Bagaimana orang Indonesia khususnya petani Indonesia menyikapi Matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun? Tanamlah sesuatu yang bisa menjadi dapur fotosintesa untuk menghasilkan produk – produk pertanian yang bernilai ekonomi. Selama kita mendapat matahari yang terus bersinar, petani Indonesia tidak memerlukan lampu LED yang mahal dan biaya listrik untuk tanaman kita fotosintesa. Dengan kemurahan Tuhan yang begitu besar atas diberinya Matahari sepanjang tahun, masihkah kita bermalas-malasan untuk tidak berbuat sesuatu di tanah yang subur, air yang berlimpah dan matahari sepanjang tahun ini.

Jika saja setiap ruang terbuka yang mendapat sinar Matahari dapat diisi dengan tanaman yang akan berfotosintesis, maka tidak ada lagi seharusnya kemiskinan, dan ketergantungan impor bahan pangan. Kita dapat menghasilkannya dari kebun kita sendiri, di halaman rumah kita. Efisiensi penggunaan ruang terbuka untuk tanaman masa depan akan menjadi kunci bagaimana kita menghasilkan banyak hasil bumi dari negeri ini dan menuju kedaulatan pangan penduduknya.

Pola tanam  tumpang sari di mana di antara tanaman utama ditanam berbagai tanaman lain yang masih mampu beradaptasi pada kondisi sinar matahari tersedia adalah  salah satu pola tanam untuk  pemanfaatan cahaya matahari yang masih bisa masuk setelah melewati tajuk tanaman utama. Pola tanam tumpang sari bisa menghasilkan ekstra panen dari lahan yang ada. Dengan jarak antar tanaman utama yang cukup jauh, maka ruang antara tanaman utama bisa diisi dengan tanaman tumpang sari yang lebih rendah dari tanaman utama, tetapi masih bisa mendapat cukup cahaya matahari. Ada tanaman –tanaman tertentu yang masih toleran di bawah naungan, seperti tanaman rimpang-rimpangan, nilam, beberapa jenis talas dan rempah semacam kapulaga

BACA  Mayoritas Negara-Negara Kaya Percaya Titik Kritis Iklim Bumi Yang Berbahaya

Di berbagai daerah, ada kebiasaan lokal turun temurun untuk menanam secara efisien, dimana di dalamnya termasuk berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya Energi Matahari.  Di Bogor Jawa Barat, petani Ubi Jalar biasa menanam Tallas diantara guludan ubi jalar. Setelah panen ubi 2 kali, mereka bisa panen talas satu kali dari lahan yang sama. Di kawasan Badu, provinsi Banten, mereka biasa menanam Kacang Hiris (Cayanus cajan) di ladang padi gogo mereka. Selain panen Padi, mereka punya sayur enak dari ladang yang sama.

Ada banyak cara efisiensi ruang dan cahaya matahari yang masuk ke area pertanian. Misalnya penanaman yang memperhatikan arah terbit – terbenamnya matahari sehingga kita bisa mengatur barisan dan antar barisan tanaman pada arah yang tepat. Pada pola tanam campuran/polikultur, penanaman tanaman yang lebih rendah di arah matahari terbit dan ditutup tanaman yang lebih tinggi di arah matahari terbenam, termasuk dengan menanam tanaman penutup lahan yang bisa dijadikan pupuk hayati maupun pakan ternak. Dengan cara – cara ini, maka energi matahari yang diterima menjadi lebih efisien untuk menghasilkan panen lebih besar. Sinar Matahari melimpah sepanjang tahun di negeri ini, sudahkah kita mengelolanya untuk kejayaan Pertanian Indonesia.

(Rana Wijaya – Kebun GPA Katulampa Bogor)

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.