Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri pakan mencapai 8-9 juta ton per tahun. Hampir 100% kebutuhan itu dipenuhi dari produksi jagung dalam negeri.

Jakarta, tambahasil.com – Juru bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif, pada awal Mei 2022 mengungkapkan bahwa kebutuhan jagung untuk bahan baku industri pakan saat ini mencapai delapan hingga sembilan juta ton per tahun. Hampir 100% dari kebutuhan tersebut telah dipenuhi dari produksi jagung dalam negeri.

Penyerapan produksi jagung sebagai bahan baku industri dalam negeri itu mendapat dukungan penuh Kemenperin. Hal ini merupakan salah satu upaya menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri pangan, dalam rangka menjaga keberlangsungan usaha dan meningkatkan perannya dalam perekonomian nasional. Langkah tersebut juga bertujuan untuk mendongrak produktivitas dan daya saing sektor tersebut.

BACA  Komoditi Pangan Pokok Strategis Aman dan Mencukupi

Febri dalam rilis Kemenperin menuturkan, kebutuhan bahan baku jagung bagi industri pangan yang mencapai sekitar 1,2 juta ton pada 2021 baru dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri sebesar tujuh ribu ton. Sedangkan kebutuhan jagung untuk industri pangan di 2022 diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,5–1,6 juta ton, seiring dengan sudah beroperasinya satu investasi industri pati jagung baru di dalam negeri.

Kemenperin berupaya meningkatkan ketersediaan bahan baku bagi industri termasuk yang bersumber dari lokal, salah satunya melalui program nilai tambah dan daya saing di sektor industri agro. Antara lain, melalui perbaikan rantai pasok di sektor industri makanan, hasil laut, dan perikanan, serta pengembangan hilirisasi industri pati jagung yang bertujuan untuk substitusi impor.

“Dengan meningkatkan kualitas pengolahan hasil panen jagung dalam negeri, diharapkan dapat mendukung penyerapan produk tersebut ke dalam rantai pasok industri makanan,” pungkas Febri.

BACA  Industri Pengolahan Porang Dikembangkan

Rendahnya pasokan jagung dari dalam negeri untuk industri pangan disebabkan sulitnya mendapatkan jagung dengan tingkat kandungan aflatoksin di bawah 20 ppb (part per billion). “Itu merupakan angka maksimum kandungan aflaktoksin dalam jagung yang dipersyaratkan untuk industri pangan. Sedangkan untuk bahan baku industri pakan, angka aflaktoksin maksimum 50 ppb,” ujar Febri, seperti ditulis dalam rilis Kementerian Perindustrian beberapa waktu lalu.

Aflatoksin adalah cemaran mikotoksin yang dihasilkan dari metabolisme cendawan Aspergilus flavus, yang terkandung dalam biji jagung serta kacang-kacangan dan bersifat karsinogenik. Kandungan aflatoksin yang dikonsumsi dalam jumlah yang melebihi batas dan dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.