Jakarta, tambahasil.com – Proyek kemitraan antara Minaqu Indonesia dan masyarakat petani Kelurahan Bojongkerta, Bogor Selatan mendapat apresiasi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada kunjungan Sabtu lalu. Dengan melibatkan 49 petani dalam pengembangan green house tanaman hias berluasan 1.000 m2, saat ini sudah menghasilkan 4.900 tanaman hias daun yang siap panen Maret 2022.

“Pola kemitraan ini berawal dari inisiasi antara Kementan dengan Minaqu pada November 2021 lalu untuk menggandeng 9 kabupaten/kota, salah satunya Kota Bogor. Ini adalah salah satu role model yang oleh Menteri Pertanian ingin agar kota dan kabupaten lain bisa juga replikasikan prototipe pola kemitraan dengan offtaker sebagai penjamin pasar. Dengan demikian, petani leboh fokus pada produksi dan hasilnya sudah ada yang menampung karena jejaring pasar dalam dan luar negeri sudah terbangun melalui offtaker ,” ujar Sekretaris Ditjen Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari saat mengunjungi lokasi, Senin (28/2).

BACA  BRIN Temukan 7 Jenis Flora Dari Pulau Sumatra dan Sulawesi

Bojongkerta dipilih karena dinilai sebagai lokasi yang memiliki modal kemauan untuk bertanam. Minaqu menilai ini landasan utama menjadikan lokasi ini sebagai pilot project mitra penyuplai tanaman hias berorientasi ekspor.

“Pola kerja sama ini adalah di mana kami bekerja sama dengan 49 kepala keluarga. Mereka memelihara dan memperbanyak selama 3 bulan serta memanen hasilnya dan Minaqu yang membeli. Dengan adanya kewajiban pemotongan membayar angsuran KUR barulah petani mendapatkan hasil dari usahanya,” ujar CEO Minaqu Indonesia, Ade Wardhana.

Model bisnis dengan bekerja sama dengan masyarakat ini, kata Ade, sebenarnya amanat Menteri Pertanian.

“Beliau menyampaikan kalimat sederhana kalau potensi ini jangan dipegang sendiri oleh Minaqu. Oleh karena itulah kami melakukan kemitraan – kemitraan dengan masyarakat di sekitar,” ujar Ade.

BACA  Melatih Sejuta Petani & Penyuluh Antisipasi Perubahan Iklim

Adanya ide mereplikasi model kerja sama dengan petani lokal, dirasa dirinya bukanlah hal yang sulit. Hal ini dikarenakan Indonesia adalah negara yang memiliki biodiversifikasi dengan kekayaan plasma nutfah masing-masing. Sehingga bisa memanfaatkan kekhasan plasma nutfah yang dimiliki masing-masing daerah untuk dikembangkan.

“Kami ingin secara bertahap warga bisa mandiri secara bisnis. Jadi pendampingan selama dua tahun ke depan diharapkan dapat melahirkan pusat tanaman hias yang dapat menyuplai langsung wilayah Eropa, Amerika, Asia Pasifik. Sehingga ini bisa menjadi role model yang bisa dikembangkan sebagai entitas bisnis baru,” papar Ade.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.