Pasca-Deklarasi Forestry and Land Use (FoLU) tidak berarti deforestasi harus terhenti. Ada sejumlah syarat yang harus penuhi, sebelum ketentuan itu layak diberlakukan.

Jakarta, tambahasil.com – Upaya masyarakat dunia menahan perubahan iklim itu adalah perang besar yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Program global pun disusun berderet-deret untuk mengerem laju emisi karbon dan gas rumah kaca lainnya. Tujuannya agar atmosfer bumi tak terus menghangat, bergolak, dan membangkitkan perubahan iklim yang dampaknya merusak. Targetnya, kenaikan suhu global adalah 2 derajat Celsius, dan terus diupayakan agar paling tinggi 1,5 derajat Celsius.

Kesepakatan mengendalikan emisi karbon itu sudah dibangun sejak 26 tahun silam, lewat konferensi perubahan iklim pertama, yang biasa disebut conference of the parties (COPs) 1996 di Berlin. Satu demi satu kesepakatan terus digulirkan. Namun, sampai COPs ke-26 yang digelar di Glasgow, Skotlandia, pada 1–2 November 2021, emisi gas rumah kaca masih terus terjadi, meski dalam laju yang lebih rendah.

BACA  Pemerintah Pastikan Stok Kedelai Nasional Cukup Memenuhi Kebutuhan

Pada kurun 2011–2019 misalnya, pertumbuhan emisi gas rumah kaca rata-rata global  setahun 1,1 persen. Angka itu menunjukkan bahwa tiap tahun ada penambahan 52.4 Giga Ton CO2 (equivalen) dari jumlah emisi  tahun sebelumnya. Targetnya angka pertumbuhannya dibikin nol atau negatif. Toh, capaian itu sudah jauh lebih baik, ketimbang dekade sebelumnya yang rata-rata masih tumbuh 2,6 persen per tahun.

Pertumbuhan negatif itu ternyata  bisa dicapai di sejumlah kawasan. Pada 2019, Uni Eropa mampu mengukir prestasi pengurangan emisi –3 persen dibanding 2018. Jepang dan Amerika Serikat pun  menorehkan hasil –1,2 persen dan -1,7 persen. Di tahun yang sama Tiongkok, India, dan Rusia masih positif. Indonesia masih tumbuh positif, meski secara aktual emisi karbonnya jauh di bawah negara-negara besar tersebut.

BACA  Hewan Ternak Rentan PMK Tidak Boleh Masuk Jatim

Tak heran bila dalam COPS ke-26 di Glasgow semangat untuk melakukan percepatan pemangkasan emisi karbon itu berkumandang kuat. Isu energi terbarukan muncul menguat, transformasi industri, pertanian, tata kelola sampah, dan sederet isu lainnya termasul forestry dan land use (FoLU).

Salah satu produk COPs ke-26 itu adalah Glasgow Learders’ Declaration on Forest and Land Use yang  kini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk menyiapkan dan mengatur implementasinya. Indonesia termasuk negara yang menandatangani Deklarasi FoLU, bersama 132 negara lainnya.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.