Pertamina berhasil mengembangkan bioavtur dari minyak sawit. Kinerjanya pada mesin pesawat hanya terpaut 0,2–0,6 persen dari avtur minyak fosil.

 

Jakarta, tambahasil.com – Setelah terbukti cocok untuk diolah jadi biodiesel, minyak sawit kini siap terbang sebagai bioavtur: bahan bakar pesawat udara. Tahapan persiapan terus dilakukan dengan mengujinya langsung pada mesin pesawat terbang. Pada tahap ketiga, Senin (6/9/2021), tes kinerjanya dilakukan langsung mesin General Electric CT7-9C, yang terpasang pada sayap pesawat CN235-220 milik PT Dirgantara Indonesia.

Uji kinerja itu dilakukan dalam posisi pesawat di darat, dalam hanggar PT DI Bandung, dengan mesin dinyalakan. Putaran mesin turboprop CN 235-220 itu disimulasikan seperti layaknya pesawat taxing, yakni menggelinding di atas apron menuju landasan pacu, lalu berpacu di runway, lepas landas, dan seterusnya. Ada juga simulasi pesawat digas pol untuk menaikkan ketinggiannya secara cepat.

Uji coba itu dilakukan dalam kondisi mesin menggunakan bahan campur avtur dari turunan minyak bumi dengan avtur hasil konversi dari minyak sawit. Avtur (aviation turbine fuel) umumnya adalah turunan langsung dari kerosin. Ia adalah minyak yang paling ringan, dengan rantai karbon terpendek, punya titik nyala rendah dan amat mudah terbakar. Energi hasil pembakarannya relatif lebih besar dibanding yang rantai karbonnya panjang, semacam minyak solar. Avtur sering disebut jet fuel.

Campuran avtur, biasa disebut bioavtur, yang digunakan untuk uji coba di Bandung itu adalah J 2.0 dan J 2.4. Masing-masing adalah avtur minyak bumi yang dicampur avtur sawit sebanyak 2 dan 2,4 persen. Jika hasil uji kinerja itu dianggap memuaskan, maka tahap berikutnya akan dilakukan uji terbang (fight test) dengan CN-235 di atas Bandung, pada ketinggian 3.000–5.000 meter.

BACA  Pelaku Industri Berbasis Minyak Sawit Terus Bergerak Ke Hilir

Bila tak ada masalah, maka akan berlanjut dengan flight test ulang alik dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Semuanya akan dilakukan pada September 2021. Sejumlah pihak hadir menyaksikan uji coba itu, mulai wakil dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina, PT  DI, dan tim peneliti bioavtur dari ITB serta tim laboratorium motor bakar dan sistem propulti dari ITB.

Hasil uji coba dianggap memuaskan. bioavtur J 2.4 dianggap tak mengurangi kinerja mesin. ‘’Tak ada masalah. Hasilnya bagus,’’ kata Profesor Imam K Reksowardoyo, pakar dari Lab Motor Bakar di ITB, seperti dikutip pada rilis berita di laman itb.ac.id. Bioavtur itu terbukti bisa melayani mesin dalam berbagai keperluan manuver. ’’Apakah ada ada flame out atau mesin mati? Apa ada batuk-batuk? Ternyata tidak,” kata Profesor Iman.

BACA  Saatnya Berantas Penyelenggara Pinjaman Online Nakal dan Investasi Ilegal

Dua uji coba sebelumnya dilakukan di hanggar Garuda Maintanance Fasility di Kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Desember 2020 dan Mei 2021. Ketika itu, uji coba dikenakan pada mesin jet CFM-56 Boeing-737, dalam kondisi statis, yakni dalam kondisi terlepas dan ditempatkan di ruang terkontrol. Uji coba itu menghabiskan lebih 9.000 liter bioavtur, hampir seukuran dua mobil tanki  ukuran sedang. Hasilnya juga dinilai baik. Perbedaan kinerja dari avtur dari bahan fosil hanya 0,2–0,6 persen.

Dalam tes statis itu berbagai aspek diperiksa. Mesin juga disimulasi dalam kondisi ground idle (di saat persiapan terbang), flight idle (kondisi terbang), dan pada kondisi mesin berakselerasi (accel). Lantas, dari semua kondisi  itu diperiksa beberapa indikator, seperti panas yang ditimbulkan oleh kerja mesin, getaran mesin (vibrasi), oil pressure, dan performance mesin (tenaga). Hasilnya lalu dibandingkan dengan standar yang berlaku dan tidak mengecewakan.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.