Aplikasi ASAP Digital Nasional mengintegrasikan sistem penentuan karhutla dari beberapa aplikasi di K/L termasuk Sipongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan aplikasi-aplikasi pemantauan karhutla yang berada di 13 polda.

Jakarta, tambahasil.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu mengintai Nusantara setiap tahun. Bahaya laten kebakaran ini kerap terjadi di wilayah yang memiliki hutan, lahan gambut, dan perkebunan luas.

Oleh karenanya, pemerintah terus menegakkan langkah-langkah antisipasi karhutla dengan berpegang pada strategi menuju solusi permanen pengendalian karhutla dan pengalaman-pengalaman penanggulangan karhutla sejak 2015, terutama dalam menghadapi puncak musim kemarau pada 2021 yang diperkirakan terjadi pada Agustus–Oktober 2021.

Prediksi dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, jika berdasarkan analisis ZOM Dasarian II Agustus 2021, sekira 85,38 persen wilayah Indonesia telah masuk musim kemarau. Analisis hotspot/titik panas juga menunjukan kategori menengah hingga tinggi, sehingga potensi karhutla dalam Agustus–Oktober diprediksi semakin menguat, terutama di Sumatra bagian tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

BACA  ‘Post 2020 Global Biodiversity Framework’ Jadi Standar Keberlangsungan Hidup

Kondisi cuaca panas ini diketahui juga telah menimbulkan bencana karhutla di negara-negara Eropa dan Amerika sepanjang 2021 dan mengakibatkan ribuan hingga jutaan hektare lahan hangus tersulut kobaran api.

Menyikapi kondisi demikian, pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupaya terus mendorong solusi permanen pengendalian karhutla, seperti yang diminta oleh Presiden Joko Widodo dalam setiap arahannya pada Rapat Koordinasi Nasional Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Istana Negara.

Tiga klaster utama strategi menuju solusi permanen pengendalian karhutla yang sedang ditempuh KLHK, yaitu klaster pertama berupa pengendalian operasional dalam sistem satgas patroli terpadu di tingkat wilayah diperkuat dengan Masyarakat Peduli Api-Paralegal (MPA-P).

BACA  PON XX Dongkrak UMKM dan Pariwisata Papua

Klaster kedua, berupa upaya penanggulangan karhutla berdasar analisis iklim dan rekayasa hari hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Dan klaster ketiga, dengan pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku/konsesi, praktik pertanian, dan penanganan lahan gambut, menjadi upaya pengendalian karhutla yang terus diperkuat oleh KLHK bekerja sama dengan para pihak terkait.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.