Sejumlah upaya dilakukan untuk menjadikan kolintang sebagai warisan budaya takbenda dunia. Ini untuk menemani dua alat musik tradisional asli Indonesia lainnya, angklung dan gamelan yang telah lebih dulu mendapat pengakuan.

Jakarta, tambahasil.com – Tak salah jika Asisten Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) periode 2010–2018 Francesco Bandarin menyebut Indonesia sebagai negara adidaya (superpower) dalam bidang budaya. Tidak ada negara di dunia dengan keragaman warisan budaya sekaya Indonesia.

Hal itu disampaikan arsitek senior berkebangsaan Italia tersebut ketika berlangsungnya Sidang Umum ke-39 UNESCO di kantor pusat mereka di Paris, Prancis, 14 November 2017.

Pengakuan Direktur Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Dunia UNESCO periode 2000–2010 itu bukan sekadar isapan jempol. Mengutip data pihak Delegasi Tetap RI di UNESCO, Indonesia tercatat memiliki sekitar 600 WBTB, di mana sebanyak 12 di antaranya telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

BACA  Pengerahan Pasukan Komponen Cadangan Bila Kondisi Negara Darurat

Dua dari 12 WBTB dunia UNESCO dari Indonesia, berbentuk alat musik tradisional. Yaitu angklung, diakui pada 2010 serta gamelan sebagai WBTB terbaru UNESCO asli Indonesia pada Sidang Komite WBTB ke-16 di Paris, 15 Desember 2021. Di luar angklung dan gamelan, Indonesia masih memiliki segudang alat musik tradisional, sejak Sabang hingga Merauke.

Menurut buku Alat Musik Tradisional Nusantara (2015), karya Akhmalul Khuluq, terdapat sekitar 85 alat musik tradisional dimainkan di 34 provinsi. Salah satunya adalah kolintang, alat musik pukul dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Bentuknya berupa bilah-bilah kayu disusun berderet sedemikian rupa, dari bilah ukuran besar hingga terkecil, di atas rak kayu.

BACA  PT Krakatau Steel Lakukan Transformasi dan Restrukturisasi

Suara “tong” untuk nada rendah, “ting” bagi nada tengah, serta “tang” di nada tinggi yang dihasilkan dari harmonisasi nada tadi menjadi asal mula alat musik ini kemudian dinamai kolintang. Masyarakat Minahasa dulunya selalu menyebut maimo kumolintang atau mari kita bertong-ting-tang untuk mengajak orang-orang di sekitar bermain alat musik ini. Biasanya kolintang dimainkan secara berkelompok atau ansambel.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.